Epilepsi adalah gangguan pada sistem saraf yang disebabkan oleh aktivitas listrik abnormal di otak. Otak manusia bekerja dengan mengirim sinyal listrik antarsel saraf secara teratur. Pada penderita epilepsi, sinyal ini bisa melonjak secara tiba-tiba dan tidak terkendali,sehingga memicu kejang. Seseorang baru didiagnosis epilepsi apabila mengalami kejang berulang tanpa pemicu yang jelas, bukan hanya sekali mengalami kejang demam atau kejang akibat kondisi sementara lainnya.
Gejala Epilepsi
Gejala epilepsi sangat beragam karena bergantung pada bagian otak yang terdampak. Beberapa bentuk yang umum ditemui meliputi:
- Kejang yang membuat tubuh kaku dan menghentak-hentak (kejang tonik-klonik).
- Pandangan kosong sejenak tanpa kesadaran penuh (kejang absans).
- Gerakan menyentak pada satu bagian tubuh tanpa kehilangan kesadaran.
- Sensasi aneh sebelum kejang, seperti melihat kilatan cahaya, mencium bau yang tidak nyata, atau perasaan familier berlebihan (déjà vu).
Penyebab Epilepsi
Pada banyak kasus, penyebab pasti epilepsi tidak dapat diketahui dengan jelas. Namun, beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko, di antaranya:
- Cedera kepala berat.
- Infeksi otak, seperti meningitis atau ensefalitis.
- Stroke atau gangguan pembuluh darah otak.
- Kelainan struktur otak sejak lahir.
- Faktor genetik atau riwayat keluarga.
- Tumor otak.
Pertolongan Pertama untuk Kejang
- Tetap Tenang: Jaga agar diri Anda dan orang lain tetap tenang.
- Lindungi Korban: Singkirkan benda-benda di sekitar korban untuk mencegah cedera.
- Jangan Menahan: Jangan menahan orang tersebut atau memasukkan apa pun ke dalam mulutnya.
- Catat Durasi Kejang: Jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit, hubungi layanan darurat.
- Posisi Pemulihan: Setelah kejang berhenti, posisikan orang tersebut dalam posisi pemulihan dan pantau pernapasannya.
Memahami epilepsi dan mengetahui cara merespons dengan tepat dapat secara signifikan mengurangi risiko cedera serta meningkatkan keselamatan dan kualitas penanganan bagi individu dengan kondisi ini.