Dalam dunia keselamatan dan kesehatan kerja (K3), kecelakaan sering kali langsung dikaitkan dengan human error atau kesalahan manusia. Bentuknya bisa berupa kurangnya konsentrasi, kelelahan, tidak mematuhi prosedur, atau pengambilan keputusan yang terburu-buru. Namun, pendekatan ini sering kali terlalu sederhana, karena hanya melihat kejadian di permukaan tanpa menggali akar penyebab yang lebih dalam.
Jika dianalisis lebih lanjut, banyak kesalahan manusia sebenarnya dipengaruhi oleh system error atau kegagalan sistem. Sistem kerja yang tidak jelas, prosedur yang kurang lengkap, pelatihan yang tidak memadai, serta pengawasan yang lemah dapat menciptakan kondisi yang mendorong terjadinya kesalahan. Dalam situasi seperti ini, pekerja sering kali berada dalam posisi yang rentan, di mana melakukan kesalahan menjadi lebih mudah terjadi.
System error menjadi lebih berbahaya karena bersifat sistemik dan dapat berdampak luas. Ketika satu kelemahan dalam sistem tidak diperbaiki, potensi kesalahan yang sama akan terus berulang dan dapat melibatkan banyak pekerja sekaligus. Selain itu, budaya kerja yang mengabaikan keselamatan, tekanan target yang tinggi, serta kurangnya komunikasi juga dapat memperkuat risiko terjadinya kecelakaan.
Di sisi lain, human error tetap perlu diperhatikan dan diminimalkan melalui peningkatan kesadaran, disiplin, serta kompetensi pekerja. Pelatihan yang berkelanjutan, penerapan prosedur kerja yang benar, serta kondisi kerja yang mendukung sangat penting untuk membantu pekerja mengambil keputusan yang aman. Dengan sistem yang baik, potensi kesalahan manusia dapat ditekan secara signifikan.
Oleh karena itu, keselamatan kerja harus dilihat sebagai tanggung jawab bersama antara individu dan organisasi. Bukan hanya pekerja yang harus berhati-hati, tetapi perusahaan juga wajib memastikan sistem yang ada sudah aman, jelas, dan mendukung. Dengan memperbaiki sistem sekaligus meningkatkan perilaku kerja yang aman, risiko kecelakaan dapat dicegah secara lebih efektif dan berkelanjutan.