Saat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, pola makan berubah signifikan. Waktu makan yang terbatas sering kali membuat kita memilih makanan tinggi lemak saat berbuka, seperti gorengan, santan berlebih, dan makanan cepat saji. Padahal, konsumsi lemak berlebihan dapat memengaruhi kebugaran tubuh dan konsentrasi kerja, terutama di lingkungan kerja yang membutuhkan fokus dan kewaspadaan tinggi seperti produksi, gudang, maupun area operasional.
Lemak memang dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi cadangan. Namun, penting membedakan antara lemak baik (unsaturated fat) dan lemak jenuh (saturated fat). Lemak baik dapat ditemukan pada alpukat, kacang-kacangan, ikan, dan minyak zaitun. Sedangkan lemak jenuh banyak terdapat pada makanan yang digoreng berulang kali, kulit ayam, daging berlemak, serta makanan bersantan kental. Konsumsi lemak jenuh berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol dan memicu risiko penyakit jantung serta gangguan pembuluh darah.
Dari sisi K3, asupan lemak yang tidak terkontrol dapat menyebabkan tubuh terasa cepat lelah, mengantuk, dan kurang fokus saat bekerja. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kesalahan kerja (human error), terutama saat mengoperasikan mesin, bekerja di ketinggian, atau mengemudikan kendaraan operasional. Selain itu, gangguan pencernaan akibat makanan berlemak tinggi juga bisa menurunkan produktivitas dan daya tahan tubuh selama puasa.
Untuk itu, saat sahur dan berbuka dianjurkan membatasi makanan yang digoreng, memilih metode memasak seperti kukus atau panggang, serta memperbanyak konsumsi serat dan protein seimbang. Pastikan juga kebutuhan cairan terpenuhi agar metabolisme tubuh tetap optimal. Dengan menjaga asupan lemak yang seimbang, kita tidak hanya menjaga kesehatan pribadi, tetapi juga mendukung budaya kerja yang aman, sehat, dan produktif selama bulan Ramadan.
Kesimpulan:
Puasa bukan alasan untuk mengabaikan pola makan sehat. Asupan lemak yang bijak membantu menjaga stamina, konsentrasi, dan keselamatan kerja. Sehat saat puasa, aman saat bekerja.