Radiasi cahaya biru (blue light) yang dipancarkan oleh layar laptop merupakan bagian dari cahaya tampak yang sering terpapar langsung ke mata selama aktivitas kerja. Paparan dalam durasi lama, terutama tanpa jeda istirahat, dapat menyebabkan kelelahan mata (eye strain), mata kering, pandangan kabur, sakit kepala, serta menurunkan fokus dan produktivitas kerja. Risiko ini meningkat pada pekerja kantoran yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar setiap hari.
Kebiasaan kerja yang tidak ergonomis memperparah dampak radiasi layar laptop. Jarak pandang yang terlalu dekat, posisi layar yang lebih tinggi dari mata, serta pencahayaan ruangan yang tidak seimbang membuat mata bekerja lebih keras. Selain itu, penggunaan layar dengan tingkat kecerahan dan kontras yang tidak sesuai juga dapat memicu silau, yang mempercepat terjadinya kelelahan mata.
Dampak radiasi layar laptop tidak hanya dirasakan pada mata, tetapi juga berpengaruh pada kondisi tubuh secara keseluruhan. Ketegangan mata yang berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan sakit kepala, nyeri leher, dan bahu akibat postur tubuh yang kaku. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan kenyamanan kerja dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat kerja di lingkungan perkantoran.
Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan menerapkan prinsip kerja aman di depan layar. Terapkan aturan 20-20-20, atur jarak layar sekitar 50–70 cm dari mata, dan posisikan bagian atas layar sejajar atau sedikit di bawah tinggi mata. Gunakan fitur blue light filter, sesuaikan kecerahan layar dengan pencahayaan ruangan, serta perbanyak kedipan mata untuk mencegah mata kering.
Sebagai bagian dari budaya K3 di kantor, setiap pekerja diharapkan memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan mata saat bekerja menggunakan laptop. Istirahat secara berkala, pengaturan ergonomi yang baik, serta kebiasaan kerja yang aman merupakan bentuk pencegahan sederhana namun efektif. Dengan perhatian terhadap radiasi layar laptop, kita dapat bekerja lebih nyaman, sehat, dan produktif setiap hari.